Monday, 30 March 2020

A Short Diary about COVID19

Senin, 30 Maret 2020

Hari ini masih sama seperti beberapa hari diminggu - minggu lalu bulan Maret, bahkan mungkin lebih mencekam, lebih sering mendengar orang meninggal karena COVID19 atau yang sering disebut Corona, namun banyak juga yang seakan tidak peduli, nyawa ditangan Tuhan mereka bilang, entah apa yang membuat mereka sedemikian yakin bahwa kelakuannya tidak akan menyusahkan orang lain. Namun banyak pula yang keluar rumah, bukan karena mengacuhkan perintah pemerintah untuk diam dirumah, namun keluar rumah satu - satunya jalan keluar untuk menyambung hidup, maka beruntunglah untuk orang yang masih bisa memilih tetap diam dirumah ditengah segala desakan hidup yang ada. Ekonomi semakin melemah, kebutuhan hidup kian mendesak, tentunya stress level naik entah sampai pada level yang keberapa. 

Setelah hari - hari yang diisi dengan kecemasan, pagi yang penuh perjuangan apalagi jika saya harus bekerja, belum lagi kembali ke rumah yang seakan perjuangan berat, bukan karena saya harus naik kendaraan umum, tapi saya merasa telah terpapar virus, takut menjadi machine killer untuk keluarga saya apalagi saya memiliki orang tua yang diatas umur 60th dimana mereka adalah orang - orang yang paling rentan terkena, maka saya putuskan untuk menjalani terapi saya dengan menulis, menulis apapun hari - hari yang saya lalui saat ini, setiap pagi terasa seperti anugerah juga tantangan penuh perjuangan untuk menjalani hari, melawan musuh yang tidak jelas dimana namun nyata adanya. 

Walau pagi ini saya lebih dapat mengendalikan emosi, namun serangan berita tetap membuat emosi saya tidak karuan, berita Itali yang meminta bantuan negara - negara lain untuk menangani serangan virus ini, semuanya seakan membuat badan saya diserang ribuan senjata tanpa saya punya pertahanan diri yang mumpuni.

Bahkan saya lupa kapan terakhir kali saya bangun tidur tanpa memikirkan ada berita apa lagi tentang si covid ini, saat ini yang rasakan seperti naik pesawat long haul, saya ingat perjalanan saya dari Jakarta ke Amsterdam, ditengah badai tengah malam, kilat yang membelah langit malam, perasaan akan mati, jantung yg sudah gak karuan detaknya, namun ternyata ada yang lebih parah dari itu, iya saat ini, seperti dalam pesawat terbang ditengah badai yang tanpa tahu kapan sampai atau pertanyaannya yang lebih relevan mungkin akankah saya bertahan dan melewati ini semua lalu melanjutkan hidup kembali.

Memang tidak akan ada yang tahu, tapi saya selalu berharap yang terbaik, Allah pasti punya rencana indah dibalik ini semua.

Semoga.....

Post a comment

Start typing and press Enter to search