Wednesday, 11 December 2019

Dunia yang dingin dan hati yang hangat


ada lara yang berusaha ia hancurkan dalam binar lampu jalanan ibukota
namun ternyata, bicara dalam terang hanya makin membuat matanya berkaca.
Jiwa yang selama ini ia anggap kuat, tidak lebih dari sekedar kertas yang mudah tertiup angin, terkoyak, lalu hancur berantakan.
Tapi bukankah manusia memang akan selalu lemah, pikirnya. 
Dikibaskannya tirai - tirai kenangan masa lalu, seperti membuka sebuah album foto masa kecil penuh debu, namun ada juga kehangatan disana, hangat seperti pelukan ibu saat kau terbangun karena mimpi buruk tengah. 
Hangat yang membuat semua orang ingin tetap tinggal berlama - lama disana, merasakan kedamaian yang setiap orang impikan, tapi ternyata, batas antara realita dan khayalan hanya seperti mata berkedip, kemudian ia kembali lagi berurusan dengan dinginnya dunia, berurusan dengan getirnya hidup. Matanya masih terus mencari, walau tanpa tahu apa yang ingin ia dapatkan, 
kehampaan tidak pernah berbuah semenyakitkan ini, Lelah, namun bukankah lelah juga milik semua orang? 
Gusar, manusia seperti apa yang tidak pernah merasakan kegusaran dalam hidupnya. 
"Dunia memang dingin dan kejam, tapi kamu tidak perlu menjadi dingin dan kejam pula untuk bertahan hidup", 
matanya masih mencari, mencari sesuatu yang tidak pernah ia mengerti apa. 
Perjalanan memang panjang, tapi akan ada derai tawa, tangis haru, juga genggaman tangan dari orang yang akan saling menguatkan. 
Dunia ini memang dingin, maka bergenggamanlah agar dapat saling menghangatkan. Dunia ini kadang kejam, tapi menjadi baik adalah rumus yang tidak pernah salah, walau kadang hasilnya bukan seperti satu ditambah satu sama dengan dua. 
Ada rahasia Tuhan yang tidak akan pernah sanggup manusia pikirkan, diantara waktu dan jawaban hanya butuh bersabar dan ikhlas.

Post a comment

Start typing and press Enter to search