Thursday, 12 October 2017

Jalan - Jalan ke Sumba (Part 1)


Belakangan ini Sumba menjadi salah satu destinasi yang sering dikunjungi oleh para traveler, siapa juga yang bisa menolak keindahan pulau satu ini? Untuk bisa menjelajahi Pulau Sumba ada 2 alternatif, pertama berangkat menuju Tambolaka dan pulang menuju Waingapu, atau sebaliknya. Saat itu, saya memilih alternatif yang pertama alasannya karena rute Garuda hanya ada melalui Tambolaka dan di Waingapu hanya ada maskapai Wings Air dan Nam Air, dan karena saya membeli tiket pada saat GATF jadi jkt-dps pasti harus menggunakan Garuda, setelah berbagai macam pertimbangan maka kami memilih layover di Denpasar pada hari terakhir.



Karena memilih datang melalui Tambolaka artinya saya akan bergerak dari barat pulau sumba menuju arah timur. Di pulau ini, sejauh mata saya memandang, tidak banyak rumah - rumah penduduk yang saya lalui, sebagian besar berupa sabana yang luas dengan rerumputan kering yang mengingatkan saya pada jalanan di film -film petualangan Hollywod, bukan hanya indah, tapi sempurna, sangat sempurna.
anak - anak bermain diatas kuburan


Ada banyak objek wisata di pulau ini, untuk dapat mengunjungi semua tempat tidak cukup rasanya waktu selama 5 hari, semua tempat menawarkan pesonanya masing - masing, jadi tidak perlu khawatir tidak mendapat tempat yang indah karena kemanapun kaki melangkah, semua tempat akan memberikan keindahannya masing - masing.

Sumba begitu lengkap dengan segala keindahannya, daratan, lautan, penduduk lokal, dan budaya, semua membaur menjadi satu saling melengkapi, bukan hanya indah namun bersinergi memberikan ribuan energi positif dengan dengan segala keramah-tamahan yang muncul tanpa dibuat - buat.
Hari pertama saya dan teman - teman saya dibawa oleh Bang Hugo, tour guide kami yang super seru, mengunjungi rumah adat Manola. Begitu kami memasuki area rumah adat ini, penduduk setempat langsung memberikan sapaan ramah, dan tidak lama kemudian saya tahu bahwa orang - orang di sumba ini selalu menyapa ramah walau hanya saat berpapasan di mobil. Jika datang ke rumah adat ini jangan lupa untuk membawa makanan kecil untuk anak - anak disini, mereka pasti akan sangat senang dan ajaklah anak- anak untuk berfoto bersama, mereka juga senang difoto.




yang menarik, kebiasaan penduduk sumba untuk memakamkan kerabat/saudara yang meninggal di dekat rumah mereka, ditutup dengan batu yang besar dan jika ada ada kerabat lain yang meninggal akan ditumpuk, caranya dengan mengangkat tutup yang terbuat dari batu dan semua itu menggunakan tenaga manusia, tidak dengan alat berat. Selain itu, kuburan di Sumba tidak terasa menyeramkan karena mereka menjadikannya juga sebagai area bermain, sekedar duduk - duduk diatas kuburan atau apapun yang dapat dilakukan, untuk menjaga selalu merasa dekat dengan orang yang mereka sayangi.

proses pembuatan rumah


Ada banyak cerita tentang Sumba, ada banyak tempat yang bikin tercengang karena saya tidak pernah menyangka akan semenakjub itu, dengan sudut yang berbeda - beda tapi tetap menawarkan pesona yang luar biasa. Sumba memang semenakjubkan itu, sumba yang selalu memberikan salam perpisahan dengan senja yang selalu sama, selalu bikin tercengang tak percaya melihat lukisan tuhan dilangit


Post a comment

Start typing and press Enter to search