Sunday, 9 April 2017

Percakapan kecil tentang dunia yang besar.

Ada banyak hal di dunia ini yang gue biarkan berlalu begitu saja tanpa berusaha gue pertahankan untuk tetap tinggal. 
Ada banyak orang yang gue biarkan pergi karena prasangka mereka, tanpa pernah gue berusaha untuk memberikan perspektif yang berbeda, mungkin kalau gue berikan penjelasan atas suatu keadaan yang gue alami hal yang lain akan terjadi, hal yang gue anggap lebih baik daripada yang terjadi saat itu.


Banyak ditinggalkan kadang membuat kesedihan akan kehilangan tidak lagi terasa menyakitkan. Bukan karena gue yang makin hari makin kuat sebagai manusia, namun bukankah satu anak panah yang menuju hati yang ditutupi ribuan anak panah  hanya akan melukai anak panah yang lainnya?

Dan salah satu perbincangan menarik yang selalu bergema disudut - sudut warung kopi kekinian abad ini adalah tentu tentang romansa hidup, setidaknya untuk gue yang belum memiliki pasangan hidup dan memiliki segerombolan teman bernasib sama, walau dengan alasan yang berbeda - beda, tema cinta selalu seperti pohon yang mempunyai cabang rimbun, rumit namun selalu menarik untuk dibahas, menyusuri setiap dahannya, namun anehnya semakin gue masuk kedalam suatu cerita dan semakin gue tahu bagaimana suatu proses cinta itu bisa terjadi disaat itu gue sadar bahwa sebenarnya gue gak tau apa - apa. Gue gak ngerti tentang apapun.

Lalu sesaat gue seakan memasuki pusara waktu, dimana gelombangnya semakin besar membawa pikiran gue kedalam arusnya. Gelombang yang menghanyutkan sendi - sendi alam sadar gue, menarik gue ke hari ini sepuluh tahun yang lalu, betapa kesalahan kecil dapat membawa banyak perubahan hidup yang tidak pernah terduga yang mungkin mengubah jalan hidup seseorang.


Tidak lama gue teguk segelas kopi di meja yang disusun menyerupai meja yang ada di beranda rumah nenek gue disebuah pelosok Jawa Barat. usang, tapi gue tau ada banyak cerita dalam setiap guratan kayu jati yang sudah sangat terlihat tua namun tetap kokoh. 
Pahit. Aroma pahit itu semakin memasuki sela - sela mulut gue lantas kemudian berjalan ke tenggorakan dan berakhir dilambung untuk sementara waktu. Aroma pahit yang sama yang selalu membuat gue kembali dalam "perjalanan" yang menyesakkan namun selalu gue ulang setiap kali gue perlu untuk berhenti sejenak dan memahami setiap keputusan yang hari ini gue buat.

Dan malam itu gue menyadari sesuatu, dalam suatu percakapan yang lebih gue anggap sebagai sebuah suara gema atas teriakan yang gue lakukan, bahwa banyak mengetahui suatu hal bukan berarti akan mengerti akan hal tersebut dan ketika lo gak terlalu mengerti akan hal itu lo cukup mendengarkan beberapa saat dan merasakan dengan hati apa yang lawan bicara lo sampaikan, karena empati datang dari hati bukan rangkaian logika rumit seperti rumus - rumus fisika.


Lantas cahaya itu datang samar-samar
memberi terang dalam gelap yang menyesakkan
adakah ia memang cahaya yang kekal?
atau hanya seekor kunang yang juga rapuh?

Post a comment

Start typing and press Enter to search