Tuesday, 3 January 2017

Sebuah review tentang Critical Eleven karya Ika Natassa


Tidak semua adegan romantis bertemu dengan orang asing, dan kemudian saling jatuh cinta, dapat benar - benar terjadi dalam kehidupan nyata, begitupun dengan Anya, wanita lajang Jakarta yang hidup layaknya wanita -wanita lain, yang mungkin sebagian besar hidupnya dihabiskan tanpa arah dan tujuan yang jelas "as long as I get some jobs to do and men to do, I am fine. Walau sekarang yang bagian men-nya itu sedang musim kemarau" itulah yang selalu Anya rasakan dalam hidupnya. Namun siapa sangka justru kisah cinta Anya untuk menemukan "men to do" nya justru berawal dari sebuah perkenalan dengan pria asing di dalam pesawat yang mereka tumpangi dari Jakarta menuju Sydney. 

Adalah Ale, lelaki asing yang pertama kali ia temui dalam sebuah penerbangan long haul. Setelah pertemuan pertama yang membuat mereka akhirnya jatuh cinta, yang dilanjutkan pertemuan - pertemuan berikutnya, akhirnya Aldebaran Risjad memilih seorang Tanya Laetitia Baskoro sebagai istrinya, walau harus menjalani kehidupan percintaan jarak jauh karena pekerjaan Ale sebagai seorang petroleum engineering yang terpisahkan oleh benua. 

Namun sebuah permasalahan besar justru datang disaat mereka merasa bahwa kehidupan rumah tangga yang mereka jalani akan baik-baik saja, masalah yang membuat Anya ingin menghilangkan rasa cintanya untuk Ale yang terlalu besar hilang dengan berbagai macam cara, salah satunya dengan tidak memanggil dengan sapaan Ale karena Anya ingin menghapus segala kenangan ia dengan Ale, kesalahan yang dibuat Ale hingga Anya akhirnya harus memutuskan menjauh dengan berbagai upaya yang tidak henti-hentinya ia lakukan, namun akankah Anya benar-benar akan melupakan rasa cintanya yang terlalu besar untuk Ale?

Novel karya Ika natassa ini benar - benar membuat emosi saya naik turun. Seperti judulnya "Critical eleven", dimana dalam dunia penerbangan dikenal sebagai istilah 11 menit saat - saat kritis yaitu 3 menit setelah takeoff dan 8 menit sebelum landing. Bagi saya, membaca bagian bagaimana mereka bertemu mungkin ada dalam persiapan takeoff, karena novel ini sebelumnya berawal dari kumpulan cerita pendek yang telah saya baca sebelumnya dan saya harus menunggu selama dua tahun sampai akhirnya CE diluncurkan dalam seri sebuah novel lengkap (Kak ika, Kamu jahat membuat aku menunggu puluhan purnama). Kemudian dilanjutkan dengan bagian kesalahan besar yang Ale lakukan hingga akhirnya Anya memutuskan menjauhi Ale ada dalam 3 menit setelah saya takeoff- lepas landas dari kehidupan nyata saya, dimana saya ikut larut dalam dunia khayal yang Ika ciptakan dalam Novelnya dan melayang menuju ketinggian 40.000 kaki meninggalkan dunia nyata saya dan menurut saya, Ika berhasil membuat takeoff yang mendebarkan membuat emosi naik perlahan - lahan saat memulai mengetahui permasalahan mereka, membaca novel ini seperti membuka kulit bawang, berlapis-lapis tipis namun mampu membuat mata saya pelan - pelan menitikan air mata. Ika Natassa telah membuat jalan cerita yang begitu sempurna, membiarkan pembaca ada dalam pertanyaan besar dan menjawab perlahan-lahan dengan sangat sempurna. "Penerbangan" yang Ika buat pun sangat menguras emosi saya, naik turun seperti sedang turbulence seperti itu pula perasaan saya ketika membaca novel ini dan saat saat kritis 8 menit terakhir saya habiskan sebelum akhirnya saya benar - benar menuntaskan novel karya Ika Natassa yang fenomenal, bagaimana tidak 11.000 novel habis dalam waktu 11 menit saya dalam peluncuran preordernya (iya, saya termasuk yang menangis dipojokan saat preorder dilakukan karena tidak bisa mendapatkan buku preorder ini). Sampai akhirnya saya benar - benar bisa 'landing', menapaki halaman terakhir dari novel ini, dengan perasaan yang bahagia namun juga sedih karena "perjalanan" saya berakhir. Seperti perasaan saya ketika turbulence dimana ada rasa takut, cemas, sedih, dan khawatir begitupun perasaan yang saya rasakan ketika saya membaca novel ini dan pendaratan yang mulus tentunya hal yang sangat diharapkan bagi setiap penumpang pesawat dan ketika pesawat berhasil melakukan smooth landing pasti saya akan selalu memuji sang Pilot yang berhasil mendaratkan pesawat dengan baik, hal itu pula yang saya rasakan. Ika Natassa telah menjadi "pilot" yang baik dalam menerbangkan "pesawatnya" kali ini. Membuat saya terbang (baca: delusional) dengan bayang-bayang sosok Ale yang tidak sempurna namun justru membuatnya makin sempurna sebagai manusia. 

Melanjutkan kisah suksesnya dalam sebuah buku, novel ini akan segera tayang dalam sebuah film yang akan dimainkan oleh Reza Rahardian dan Ardinia Wirasti dan tentunya adaptasi karya novel ini saya harapkan akan memenuhi ekspektasi saya sebagai pembaca novel-novel Ika Natassa yang belum sembuh delusionalnya, agak sedikit lega sebenarnya mengetahui siapa pemain utama yang akan terlibat, karena saya membayangkan adegan dimana Anya dan usahanya untuk melupakan Ale dan juga usaha keras Ale untuk mendapatkan Anya kembali, juga cintanya Anya, akan sangat membutuhkan luapan emosi yang besar namun tentu harus terlihat alami agar tidak ada kesan dibuat -buat, dan untuk hal itu para pemain ini sudah terbukti berhasil melakukan dengan baik dalam film - film mereka terdahulu dan semoga tangan dingin Ika natassa (juga kerja keras semua tim produksi) akan berhasil dengan baik, membawa saya kembali melayang dan mendarat dengan mulus, walau mungkin akan membuat delusional saya akan memasuki stadium lancet yang mungkin akan sulit disembuhkan.

Post a comment

Start typing and press Enter to search