Monday, 26 December 2016

Review : Gelombang


Sebelum membaca isi dari novel Gelombang ini saya memprediksi pasti akan membutuhkan waktu yang lama untuk melahap sampai tuntas karena isinya yang cukup tebal. Tapi dugaan saya salah besar karena hanya membutuhkan waktu 3 hari untuk membaca novel ini (sebelumnya saya tidak pernah membaca seri supernova begitu cepat). Seperti judulnya, buku ini membuat saya benar- benar terbawa gelombang yang Dee ciptakan dengan sangat sempurna, jika ungkapan menyelami tokoh Alfa terlalu biasa, maka saya akan menggunakan kalimat terbawa arus oleh gelombang Alfa. Dee sepertinya tahu benar bagaimana menyeret pembacanya untuk membuka tiap lembar novel ini dengan harapan akan segera mengetahui akhir cerita namun berharap tidak segera menuju ke halaman terakhir novel karena enggan berpisah dengan tulisan Dee, seperti itulah perasaan saya ketika menuju lembar-lembar terakhir Gelombang saya buka. 
Bercerita tentang Alfa Sagala dan segala perjuangan hidupnya. Perjuangan untuk bertahan hidup karena setiap hari harus dihantui oleh mimpi yang selalu sama. Mimpi yang membawanya pada perjuangan hidup dan mati setiap kali ia tertidur. Dimulai dengan latar tanah batak yang dengan apik diceritakan diawal kehidupan Alfa, yang dikampungnya dipanggil Ichon. Bagaimana seorang anak kecil yang mulanya menjalani kehidupan normal harus berjuang dengan ketidaktahuannya tentang makhluk gaib yang tiba - tiba muncul dihadapan Ichon ketika upacara adat dikampungnya berlangsung. Pilihan - pilihan sulit mulai muncul seiring dengan mimpi yang selalu sama datang dalam setiap malam Ichon. salah satunya adalah ketika diperebutkan untuk menjadi murid oleh Datu-Datu yang mengetahui kemampuan Ichon ini.
Perjalanan hidup Alfa Sagala dimulai ketika ayah Ichon memutuskan untuk merantau ke Jakarta Sampai pada suatu ketika Paman Alfa menawarkan untuk mengikutinya merantau ke Amerika Serikat yang kemudian Alfa ketahui bahwa ia dibawa menjadi imigran gelap. Kehidupan yang berliku terus dialami Alfa, bagaimana setiap harinya ia harus bertahan untuk menghadapi gerombolan preman di tempat tinggalnya.
setelah pelarian yang cukup lama akan kemampuan Alfa kecil, gelombang hidup kembali membawa Alfa pada kejadian masa lalunya, pada mimpi-mimpinya yang tidak pernah berubah. Hingga pada akhirnya penelusuran akan mimpi-mimpinya selama ini membawa Alfa ke Tibet. Tempat yang tidak pernah ia bayangkan sama sekali akan kesana, terlebih hanya untuk mencari seseorang yang mungkin dapat membawanya pada penjelasan akan pertanyaan yang dari dulu selalu menghantuinya, dari mimpi-mimpi yang sebenarnya bukan hanya mimpi, namun sebuah petunjuk yang akan membawa Alfa kemana ia seharusnya berada.
Menurut saya dalam novel kali ini, Dee benar-benar membawa saya pada setting tempat tanah batak yang nyata, walau saya belum pernah kesana sebelumnya, tapi Dee dengan sangat tepat meracik kata-katanya sehingga membuat saya merasakan mistis yang berusaha Dee sampaikan.Kemudian pembaca kembali diseret gelombang ke setting tempat Alfa tinggal di New Jersey. suasana kumuh, mencekam dan ramai akan orang yang tinggal di perumahan sederhana terasa sangat nyata. Dan lagi-lagi yang membuat saya terperanga adalah bagaimana Dee menceritakan tentang ilmu-ilmu ekonomi, tentang saham seolah ia benar-benar terjun kedalamnya. Hal yang saya kagumi juga di Partikel saat Dee menuliskan tentang jamur seakan ia sangat ahli dalam bidang biologi.
Kekurangan yang saya rasakan di Gelombang ini hanya adanya kesan terburu-buru dalam menentukan akhir cerita, tidak seperti di Partikel yang rasanya sangat sempurna dalam penentuan 'kapan ia harus berakhir' pada Gelombang menurut pandangan saya Dee membuatnya terlalu cepat berlari dan terlalu cepat berhenti. Tapi itu semua bukan berarti membuat novel ini menjadi tidak layak untuk dinikmati. Karya-karya seorang Dewi Lestari rasanya tidak perlu diragukan lagi dalam mencuri kekaguman pembacanya.


Post a comment

Start typing and press Enter to search